Rabu, 07 November 2018

Jangan Lupa Bersyukur


Di mana pun kita di tempatkan, di situlah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar.  Belajar apa pun dari lika liku kehidupan. Belajar untuk sabar, mengendalikan emosi, dan belajar untuk mengelola hati. Sedih dan kecewa pasti ada. Semua itu tidak terlepas sebuah proses dari-Nya. 

Satu kata yang kadang kita sering lupa yaitu syukur. Bersyukur atas apa yang Allah takdirkan kepada kita. Syukur atas apa yang Allah berikan kepada kita. Syukur atas semua kebahagiaan yang Allah berikan kepada kita. Syukur merupakan bentuk terima kasih seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Kadang manusia lupa bersyukur atas kesedihan dan air mata yang dicurahkan.
Tak ada yang bisa kuartikan semua ini.

Senin, 05 November 2018

Indahnya Perbedaan


Aku sangat mengenal satu-satu bagaimana sifat teman-teman di asrama. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku. Baiklah akan kuperkenalkan mereka satu persatu:
Noralimah, seorang pejuang yang selalu semangat, penuh energik dalam beraktivitas, dan pantang menyerah. Mahdiah, sosok yang paling tenang di antara kami. Orangnya eklusif, tetapi memiliki kemauan yang kuat dalam berusaha. Siti Ema Fatimah, sosok yang periang dalam menjalani setiap aktivitas, rajin bersih-bersih walaupun kadang suka ngambek. Siti Badariah, orang yang super aneh bagiku. Manja dan lebay, itu sifat khasnya. Tapi, menyenangkan.  

Qomariyah, orang yang tak mudah tersinggung. Dalam hal pekerjaan dia tanggap dan cekatan. Walau dia kadang suka blak-blakan hingga tak merasa telah menyakiti hati orang lain. Laila Nispi, hmmm… Orang yang masih perlu kami bimbing, karena sering mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu. Tapi, dia orang yang kuat dan berani. Rusdayanti, orang yang tak mengenal lelah, terus belajar, dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Mudah menerima kekurangan diri, sehingga tak sulit untuk menjadi lebih baik. Walau kadang kurang sopan,, yahh, agak mirip dengan Qomariyah sifatnya.

Aku sendiri?
Penasaran?
Nantikan di kisah selanjutnya...

Tulisan ini ditulis di Perpustakaan Kampus IAIN Antasari Banjarmasin, 25/6/2016

"Innama'al 'usri yusraa"



Setiap kesulitan ada kemudahan. Dalam satu kesulitan Allah kirimkan dua kemudahan. Jadi, sesungguhnya setiap kesulitan akan ada kemudahan-kemudahan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Yakinlah kemudahan itu akan datang. Orang yang hebat tidak dilahirkan dari jalan yang mudah. Pelaut ulung tidak dihasilkan dari laut yang tenang. Mereka sukses setelah melalui berbagai kesulitan hidup hingga akhirnya mereka mampu bertahan sampai kemudahan menjemput mereka.

Dalam kehidupan ini tentu banyak terjadi perbedaan-perbedaan pemikiran. Entahlah itu permasalahan cara pandang hidup ataupun masalah pergaulan. Seperti halnya kami di asrama. Banyak sekali perbedaan di antara kami. Semua sifat yang ada pada diri kami tidak mengharuskan adanya percekcokan. Kami bisa hidup damai berdampingan. 


21/6/2016,,, next on...

Sabtu, 03 November 2018

Mimpi






Ketika rasa lelah mulai hinggap. Rasa kantuk segera menyerang. Tak ada yang bisa kulakukan selain merehatkan sejenak persendian dan pikiran. Berharap rehat membuatku lebih rileks. Berharap semua organ tubuhku ikut istirahat. Namun, entah alam bawah sadarku tetap berkeliaran.  

Tak jarang dalam rehatku memimpikan suatu tempat yang tak asing lagi bagiku, rumah. Alam bawah sadar telah membawaku masuk ke rumah, ngobrol dengan orang tua. Makan bersama dan bercanda dengan adik-adikku. Dan yang tak pernah tertinggal, aku melihat rumah itu telah diperbaiki. Rumahku sudah punya kamar seperti yang kuidamkan selama ini. Betapa bahagianya hatiku.

Tiba-tiba alarm HP mengejutkanku, membuyarkan semua kebahagiaanku. Aku sejenak sadar, ternyata ini hanya mimpi. Mimpi seperti ini tak hanya sekali kualami. Aku selalu memimpikan rumah jika tertidur dalam keadaan lelah dan letih.

Semoga suatu hari ketika aku terbangun dari tidurku, yang kulihat bukan lagi langit-langit asrama. 

Aku pernah mendengar, jika seseorang hadir dalam mimpi. Berarti orang tersebut sedang merindukanmu.

Hmmm, bisa jadi orang tua dan seisinya sangat merindukanku. Atau mungkin aku yang terlalu rindu dengan mereka. Entahlah

Jumat, 02 November 2018

Amanah itu dari Allah




Tugas yang diberikan kepada kita merupakan amanah dari Allah yang harus kita kerjakan. Semakin banyak amanah yang diberikan kepada kita hal itu menandakan bahwa orang lain menaruh kepercayaan terhadap kita. Jadi, jangan sampai kita melalaikannya.

Setelah lulus SMA di tahun 2012, aku langsung merantau ke Kota Banjarbaru. Aku mengabdikan diri di salah satu Sekolah Islam Terpadu Insantama di Banjarbaru, tepatnya di Jalan Pondok Bambu Komp. Kampus Insantama Loktabat Utara, Banjarbaru. Di sinilah aku sekarang tinggal, di asrama SMP-nya. Di pagi hari aku belajar mengajar di SD, dan sore hari sampai pagi lagi aku mendampingi siswi SMP di asrama. Di sini aku bersama beberapa temanku ditempa dan dibimbing menjadi pendidik yang tangguh. Di sini juga kami dibiayai oleh Yayasaan Bina Insantama untuk kuliah di STKIP PGRI Banjarmasin di Banjarbaru. Aktivitas kami berputar pada sekolah, kampus, asrama, dan dakwah. Begitulah kehidupan kami hingga sampai sekarang. 

Aku mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) dan lulus pada tahun 2016. Aktivitasku berkurang satu, hanya sekolah, asrama, dakwah. Aku berpikir dengan selesainya kuliah, paling tidak aku sudah lepas tanggungan dari tugas-tugas kuliah yang sangat menguras tenaga dan pikiranku. Tapi, ternyata amanah dan tanggunganku malah semakin bertambah. Banyak amanah baru yang kuterima baik di sekolah maupun dakwah.

Dengan banyaknya aktivitasku terkadang membuatku lebih sering protes dan mengeluh capek. Seakan-akan tidak ada celah untuk beristirahat sekadar meregangkan tulang-tulang dan persendianku. Namun, semua ini sudah menjadi tugas dan bagian dari seorang pendidik dan hamlud dakwah. Aku telah disadarkan dengan ayat Allah dalam Alquran yang berbunyi, "Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya". Aku yakin dengan banyaknya aktivitas dan agenda serta amanah yang kuterima Allah pasti memberikan kekuatan dan kemampuan kepada diriku untuk menjalankannya. 



Kamis, 01 November 2018

My Name is Mukarramah

Namaku Mukarramah. Aku berasal dari keluarga sederhana. Rumahku di desa yang cukup terpencil. Walaupun begitu aku senang bisa terlahir di sana. Desa yang penuh dengan kedamaian, sejuk, dan nyaman. Rumahku dihiasi dengan bentangan persawahan yang sangat luas. Kebun dan tanaman hijau yang menghiasi desaku. Rumahku juga dikelilingi kebun jeruk dan talas, serta sawah-sawah yang berpetak.

Kini, sejak 2012 aku merantau ke kota. Membuatku sering rindu dengan kampung halaman dan keluargaku. Terkadang aku rindu dengan nyanyian jangkrik di malam hari. Terkadang aku rindu dengan teriakan anak petani. Aku juga rindu suara bebek dan ayam yang bersahutan di pagi hari. Mereka tidak pernah lalai untuk membangunkanku di waktu subuh.