Hari ini sepi. Karena dua bocah sudah pergi.
Sabtu, 13 Juni 2020
Rabu, 25 Maret 2020
Antara Sakit dan Rindu
“Nggak
ada yang kangennya sama mamakah? Mama sudah sakit tiga hari”. Sebuah chat Kak
Ramli di wagrup keluarga. Sebuah pesan yang sangat menusuk bagiku. Aku langsung
memutuskan untuk pulang. Seingatku ini adalah kali kedua mama sakit. Aku
mengenal mama adalah wanita yang kuat. Jarang sakit.
Aku
ngambil izin pulang di hari sekolah, hari Jumat. Aku pulang dengan adikku,
Maryam. Kurang labih 4 jam perjalanan, kami sampai di rumah. Rumah sederhana di
tepian sawah. Rumah yang mengisyaratkan kedamaian jauh dari kebisingan. Inilah
alasan aku selalu kangen dengan suasana rumah.
“Assalamu’alaikum”
ucapku ketika kaki menginjak pelataran rumah. Di sana sudah ada kakakku yang
menunggu. Ternyata kedatangan kami dinantikan mereka.
Aku
dan Maryam langsung sungkeman dengan Abah dan Mama. Ketika kusentuh tangan
Mama, aku merasakan sengatan hangat yang merayap. Kulit yang dulu mulus, kini
keriput. Tangan yang dulu lembut, kini kasat dimakan usia. Aku tahu
perjauanganmu berat melahirkan dan membesarkan kami semua. Tangan ini menjadi
saksi atas perjuanganmu.
Kini,
tangan itu melemah menahan rasa yang berkecamuk. Antara sakit dan rindu. Mama,
aku ingin pulang ke pangkuanmu setiap saat. Merajut masa depan di hari tuamu.
Setelah
menaruh tas di kamar. Aku dan Maryam duduk bersisian di ranjang tempat Mama
berbaring. “Ma, gimana masih sakit. Sakitnya di mana?” tanya kami bersamaan.
“Perut
bagian sini terasa sakit. Sudah tiga hari belum sembuh-sembuh,” ucap Mama lirih
menahan sakit sambil memegang perut bagian kiri.
Sabtu, 04 Januari 2020
DUNIA SEMPIT, YA?
Dunia begitu sempit. tak seluas daun kelor. Kadang kita tak sempat berfikir bagaimana bisa dipertemukan dengan seseorang.
Allah
hadirkan seseorang di hadapan kita untuk maksud tertentu. Tak ada
kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur sempurna oleh-Nya yang Maha
Sempurna.
Jangan
sia-siakan orang yang hadir dalam kehidupan kita. Baik itu sebagai
teman, sahabat, anak, ataupun pasangan. Karena kita tak selamanya
bersama. Pasti akan berpisah.
Mereka
yang pergi (mati), takkan mungkin bisa kembali. Hanya ada satu yang
pergi (ke Allah), dan ia akan kembali (ke kita) yaitu doa.
Untuk
orang yang saat dulu, kini, dan akan datang, doakan mereka. Karena tak
ada untaian kata terindah selain doa untuk masa lalu, kini, dan masa
depan kita.
Banjarbaru, 4/1/2020
_Mukarramah Rasyidah el Fikry_
Kamis, 02 Januari 2020
Maukah Kau Menjadi Takdirku?
Maukah
Kau Menjadi Takdirku?
Aku pernah mendengar,
jodoh kita adalah cerminan diri kita. Benarkah jodoh atau pasangan hidup kita
merupakan cerminan diri kita. sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam firman
Allah Swt berikut ini.
“Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). (QS. An-Nur; 26)
Sesuai ayat di
atas bisa kita simpulkan bahwa jodoh itu cerminan diri sendiri. Jangan hanya
berharap dapat yang terbaik kalau kamu belum berhasil menjadi versi terbaikmu.
Jangan berharap
tinggi, kalau kamu masih malas berbenah diri. Karena hidup tak seindah dongeng
di mana pangeran impianmu akan datang tiba-tiba.
Berbenah diri
bukan hanya tentang memoles wajah dan penampilan. Tapi juga akhlakmu pada diri
sendiri dan orang lain.
Boleh saja kamu
bermimpi memiliki pendamping hidup yang mapan dan berpendidikan. Tapi,
sejajarkan dirimu untuk berada di level yang sama dengannya.
Berbenah diri tak
berarti melarangmu menjadi pribadi yang apa adanya. Tapi, menerima diri apa
adanya.
Antara dirimu dengan
jodoh punya sifat yang berbeda dan saling mengisi. Tapi, jangan mendamba pria
yang sempurna hanya untuk mengisi kekuranganmu.
Jika sudah
mengupayakan menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu hanya tinggal menunggu sang
pemilik hati mempertemukanmu dengannya.
Entah kali
kesekian kucoba merutuki hati. Entah berapa kali kucoba menutupi kegundahan
hati tiap kali membaca tulisan itu. aku kembali tersadar mengaguminya sejak
dulu sampai sekarang adalah sesuatu yang naif.
Ya Allah aku tahu
rasa ini tak salah hinggap dan bersemi di hatiku. Tapi salahlah jika aku
meminta dia yang menjadi takdir dalam hidupku?
Siapapun dia, untuk
seseorang yang Allah gariskan untukku.. Entah ada di belahan dan sedang apa
dia. Entah seperti apa dirinya. Yang kutahu, mungkin dia tengah berada di
tempat yang sama dan melakukan hal yang sama seperti aku saat ini.
Maukah kau menetap di
sini?
Di hunian sederhana,
dengan cinta yang sederhana pula.
Aku memang tak memiliki
keindahan.
Tapi setidaknya ada
secawan ketulusan.
Maukah kau tinggal di
sini?
Takkan kupinta cinta yang
istimewa. Pun sayang seluas samudra.
Cukup jadikanku tempatmu
pulang.
Itu sudah memberiku
kebahagiaan.
Maukah kau menjadi
takdirku?
Menjadi penggenap agamaku.
Mengimamiku di setiap
ruku dan sujudku.
Dan izinkan aku yang
mengaminimu, di setiap kali kau langitkan doamu.
I
hope he is my destiny, Ya Allah…
Someone
who wants to accept me as is.
_Menjadi
imam terbaik yang membimbingku menuju surga-Nya Allah Swt_
Hadikat, 3/1/2019
Mukarramah Rasyidah el Fikry
Langganan:
Postingan (Atom)

