Kamis, 05 September 2024

WISUDA

 Wisuda adalah hari di mana semua orang berhak bahagia, khususnya para mahasiswa. Hari di mana semua mahasiswa menyaksikan keberhasilannya. Pamungkas dari acara ini adalah prosesi wisuda, pemindahan tali toga dari kiri ke kanan oleh ketua STKIP PGRI Banjarmasin, bapak Drs. M. Abidinsyah, Semua terlihat senang dan bahagia. Para orangtua sudah berhadir di acara tersebut. Mereka berkorban untuk menyaksikan anaknya telah menyandang gelar sarjana.

Jauh hari sebelum wisuda kami sudah merencanakan keberangkatan orang tua masing-masing. Aku sepakat dengan Alimah bahwa sebelum hari wisuda kami pulang ke rumah supaya berangkat wisuda bisa bareng. Kami charter mobil kol untuk bisa mengajak keluarga

Tapi rencana hanya tinggal rencana, ternyata siang hari itu kami harus menghadiri gladi bersih di Gedung Suriansyah, Banjarmasin. Akhirnya ga jadi pulang. Tetapi orang tua tetap berangkat. Sudah disepakati untuk charter mobil kol dengan harga yang sudah disepakati pula, 700rb. Charter mobil kol dari pihak keluargaku, kemudian menjemput keluarga Alimah di Rantau Keminting

Setelah tiba di Banjarbaru mereka menjemput adikku, Maryam dan adik Alimah, Syafi’ie dan Jumiati di depan kampus ULM Banjarbaru. Aku dan Alimah berangkat naik motor

Namun, qadharollah, hari itu hujan sangat lebat mengguyur kota Banjarmasin. Kami tetap menerobos hujan lebat itu. Basah terkena air hujan menjadikan pakaianku basah. Jalanan banjir sehingga sepatuku ikut berenang di antara roda-roda kendaraan. 

Rabu, 04 September 2024

MENGAPA ADA RINDU?



***

Teringat sebuah perkataan dari sang ustadz, “kesholihan seorang laki-laki dapat dilihat dari sholat Subuhnya, dan bagaimana ia memperlakukan ibunya”. 

 

Sebuah pemandangan langka saat ini ada sosok laki-laki yang masih muda bermunajat di Subuh buta. Deru motor itu sangat aku kenal. Motor butut keluaran 90an yang setia menerjang jalan setapak yang terjal.

 

Seperti subuh ini, motor itu lewat lagi. Bunyinya mengalahkan alarmku di tempat tidur. Seperti biasa aku buru-buru membuka tirai jendela. Memastikan apa yang kudengar tidak keliru.

 

“Inilah yang membuat aku semakin yakin, Dialah sosok yang sudah berhasil mencuri separoh hati dan jantungku. Hatiku bak tersayat sembilu ketika mendengar suaranya. Ketika berpapasan dengannya membuat kaki serasa tak berpijak. Aku benar-benar meleleh. Bagai sengatan besi panas.

 

***

Aku bingung bagaimana caranya menyembunyikan perasaan ini. Rasa ini semakin bertambah ketika aku tahu bahwa dia bekerja sekantor denganku. Setiap hari ada saja tingkah laku yang membuatku salah tingkah.

 

“Cieee” kalimat inilah yang setiap hari aku terima dari teman-teman sekantorku. Anehnya, aku merasa senang mendengarnya. Rasa semakin membuncah dan bunga ini bermekaran.

 

“Fi, hati-hati. Seorang wanita itu dijaga hatinya. Allah mengingatkan kita, jangan mencintai seseorang berlebihan. Karena bisa jadi ia bukan yang terbaik untuk kita” kata-kata Ka Kia membuatku tersadar kembali.

 

“Ka Kia benar. Tapi aku bingung, ka” Aku menyelunjurkan kaki agar posisiku lebih rileks.

 

Ka Kia masih memainkan sedotan di gelasnya. Sesekali menghirupnya, sambil menunggu pesanan lalapan lele kesukaannya, Ka Kia melanjutkan kata-katanya.

 

“Tingkah laku kamu terlihat Fi,”

“Terlihat bagaimana Ka?” tanyaku dengan alis sedikit terangkat.

“Yah, dari sikap yang kamu tunjukkan ketika bertemu dengan dia.”

“Emang iya?”

“Iyalah, Semua orang juga tahu bahwa kamu suka dengannya kan?”

“Nggak kak, biasa aja”

“Nggak usah bo’ong. Aku tahu koq”

 

Aku berkali-kali mengelak, tapi selalu dicecar oleh Ka Kia. Sikapku sudah menjawab semuanya. Dan ucapanku mewakili isi hatiku. Begitu kata Ka Kia. Aku menyerah. Ka Kia memang pengamat. Suka mengamati orang lain. Pantes dia menjabat sebagai Manager.

 

“Tapi, aku sedih ka. Dia cuek banget sama aku.”

 

***

Ramadhan bulan berkah. Bagiku, Ramadhan kali ini sedikit berbeda. Aktivitasnya lebih banyak kuhabiskan di kampung halaman bersama keluarga. Lebih pas bersantai sih sebenarnya dari pekerjaan kantor. Lumayan bisa sedikit menyegarkan pikiranku. Obat penenang stresku salah satunya pulkam. Kalau boleh aku jujur, aku kadang-kadang ingin lepas dari jeratan yang mengikatku selama ini.

 

Menikmati suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota membuatku sedikit melupakannya. Terlupa kalau aku punya rasa. Rasa itu jauh hari kutinggalkan. Biarlah rasa itu berkelana sendiri. Mencarinya bukan sesuatu yang kukehendaki. Saat ini yang terpenting adalah rasa itu perlahan kubuang. Aku hanya berharap, ia datang sendiri tanpa aku yang mencarinya.

 

Seperti biasa, setelah pulang dari surau. Ayah meraih remot TV dan menyalakannya. “Pagi ini ada ceramah dari ustadz Abdus Somad” gumamnya. Ayah begitu menikmati dinginnya suasana pagi ditemani lelucon dari Ustadz Abdus Somad lewat ceramahnya. Ustadz Abdus Somad salah satu ulama kondang Indonesia yang banyak digemari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai remaja. Apalagi para orang tua, mereka begitu mengidolakan.

 

Di samping si ceramahnya yang bagus, beliau selalu menyelipkan homur Islami. Inilah yang membuat orang lebih mudah menerima isi ceramah beliau. Ayahku salah satu fansnya Ustadz Abdus Somad. Tiap hari tidak pernah absen dari ceramahnya.

 

***

Hmm, aku pulang ingin menenangkan pikiranku yang berkelabat belakangan ini. Entah kenapa aku merasa gelisah. Ya Allah haruskah aku ungkapkan kegelisahanku pada-Mu. Aku malu dengan-Mu ya Allah. Aku belum bisa menghilangkan kegelisahan ini. Entah sampai kapan bisa berakhir. Ya Allah tolong bantu aku. Aku merindukan seseorang.

 

Saat jenuh merongrong jiwa. Rasa yang tak mampu kubendung. Rindu yang kian membuncah. Tak ada daya dan upaya selain meminta kepada-Nya.

 

Di pertigaan malam aku terjaga. Membasuh mata yang terlelap. Bermunajat syahdu lewat rangkaian sujud. Di penghujung doa tak henti-hentinya menghamba.

 

“Ya Allah, di bulan yang penuh berkah ini izinkan aku meminta kepada-Mu. Jika ada orang yang serius berniat baik. Maka tunjukkanlah dengan cara-Mu. Aku hanya ingin cinta suci ini terjalin dalam ikatan pernikahan.”

 

“Assalamu’alaikum ukhti. Ukhti sudah ada calon? Kalau belum ada, insya Allah saya berniat memberikan yang terbaik untuk ukhti”.

 

Sebuah pesan wathsapp masuk di ponselku. Bagai disengat aliran listrik ketika kubaca pesan singkat. Mengisyaratkan satu makna yang didamba oleh setiap para jomblo.


Catt: Nemu tulisan ini di laptop. Tenyata, ditulis 22 Agustus 2019
Agak lucu sih, baca-baca tulisan dulu. wkwk
Maklumlah yah! Hhe

Rabu, 25 Maret 2020

Antara Sakit dan Rindu






“Nggak ada yang kangennya sama mamakah? Mama sudah sakit tiga hari”. Sebuah chat Kak Ramli di wagrup keluarga. Sebuah pesan yang sangat menusuk bagiku. Aku langsung memutuskan untuk pulang. Seingatku ini adalah kali kedua mama sakit. Aku mengenal mama adalah wanita yang kuat. Jarang sakit.

Aku ngambil izin pulang di hari sekolah, hari Jumat. Aku pulang dengan adikku, Maryam. Kurang labih 4 jam perjalanan, kami sampai di rumah. Rumah sederhana di tepian sawah. Rumah yang mengisyaratkan kedamaian jauh dari kebisingan. Inilah alasan aku selalu kangen dengan suasana rumah.

“Assalamu’alaikum” ucapku ketika kaki menginjak pelataran rumah. Di sana sudah ada kakakku yang menunggu. Ternyata kedatangan kami dinantikan mereka.

Aku dan Maryam langsung sungkeman dengan Abah dan Mama. Ketika kusentuh tangan Mama, aku merasakan sengatan hangat yang merayap. Kulit yang dulu mulus, kini keriput. Tangan yang dulu lembut, kini kasat dimakan usia. Aku tahu perjauanganmu berat melahirkan dan membesarkan kami semua. Tangan ini menjadi saksi atas perjuanganmu.

Kini, tangan itu melemah menahan rasa yang berkecamuk. Antara sakit dan rindu. Mama, aku ingin pulang ke pangkuanmu setiap saat. Merajut masa depan di hari tuamu.

Setelah menaruh tas di kamar. Aku dan Maryam duduk bersisian di ranjang tempat Mama berbaring. “Ma, gimana masih sakit. Sakitnya di mana?” tanya kami bersamaan.

“Perut bagian sini terasa sakit. Sudah tiga hari belum sembuh-sembuh,” ucap Mama lirih menahan sakit sambil memegang perut bagian kiri.



Sabtu, 04 Januari 2020

DUNIA SEMPIT, YA?

Dunia begitu sempit. tak seluas daun kelor. Kadang kita tak sempat berfikir bagaimana bisa dipertemukan dengan seseorang.

Allah hadirkan seseorang di hadapan kita untuk maksud tertentu. Tak ada kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur sempurna oleh-Nya yang Maha Sempurna.

Jangan sia-siakan orang yang hadir dalam kehidupan kita. Baik itu sebagai teman, sahabat, anak, ataupun pasangan. Karena kita tak selamanya bersama. Pasti akan berpisah.

Mereka yang pergi (mati), takkan mungkin bisa kembali. Hanya ada satu yang pergi (ke Allah), dan ia akan kembali (ke kita) yaitu doa.

Untuk orang yang saat dulu, kini, dan akan datang, doakan mereka. Karena tak ada untaian kata terindah selain doa untuk masa lalu, kini, dan masa depan kita.

Banjarbaru, 4/1/2020

_Mukarramah Rasyidah el Fikry_

Kamis, 02 Januari 2020

Maukah Kau Menjadi Takdirku?


Maukah Kau Menjadi Takdirku?

Aku pernah mendengar, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Benarkah jodoh atau pasangan hidup kita merupakan cerminan diri kita. sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam firman Allah Swt berikut ini.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur; 26)

Sesuai ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa jodoh itu cerminan diri sendiri. Jangan hanya berharap dapat yang terbaik kalau kamu belum berhasil menjadi versi terbaikmu.
Jangan berharap tinggi, kalau kamu masih malas berbenah diri. Karena hidup tak seindah dongeng di mana pangeran impianmu akan datang tiba-tiba.
Berbenah diri bukan hanya tentang memoles wajah dan penampilan. Tapi juga akhlakmu pada diri sendiri dan orang lain.
Boleh saja kamu bermimpi memiliki pendamping hidup yang mapan dan berpendidikan. Tapi, sejajarkan dirimu untuk berada di level yang sama dengannya.
Berbenah diri tak berarti melarangmu menjadi pribadi yang apa adanya. Tapi, menerima diri apa adanya.
Antara dirimu dengan jodoh punya sifat yang berbeda dan saling mengisi. Tapi, jangan mendamba pria yang sempurna hanya untuk mengisi kekuranganmu.
Jika sudah mengupayakan menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu hanya tinggal menunggu sang pemilik hati mempertemukanmu dengannya.

Entah kali kesekian kucoba merutuki hati. Entah berapa kali kucoba menutupi kegundahan hati tiap kali membaca tulisan itu. aku kembali tersadar mengaguminya sejak dulu sampai sekarang adalah sesuatu yang naif.
Ya Allah aku tahu rasa ini tak salah hinggap dan bersemi di hatiku. Tapi salahlah jika aku meminta dia yang menjadi takdir dalam hidupku?
Siapapun dia, untuk seseorang yang Allah gariskan untukku.. Entah ada di belahan dan sedang apa dia. Entah seperti apa dirinya. Yang kutahu, mungkin dia tengah berada di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama seperti aku saat ini.

Maukah kau menetap di sini?
Di hunian sederhana, dengan cinta yang sederhana pula.
Aku memang tak memiliki keindahan.
Tapi setidaknya ada secawan ketulusan.
Maukah kau tinggal di sini?
Takkan kupinta cinta yang istimewa. Pun sayang seluas samudra.
Cukup jadikanku tempatmu pulang.
Itu sudah memberiku kebahagiaan.
Maukah kau menjadi takdirku?
Menjadi penggenap agamaku.
Mengimamiku di setiap ruku dan sujudku.
Dan izinkan aku yang mengaminimu, di setiap kali kau langitkan doamu.

I hope he is my destiny, Ya Allah…
Someone who wants to accept me as is.
_Menjadi imam terbaik yang membimbingku menuju surga-Nya Allah Swt_

Hadikat, 3/1/2019

Mukarramah Rasyidah el Fikry