Rabu, 10 Juli 2019

//Coretan Akhir di Kota Hujan//


 //Coretan Akhir di Kota Hujan//


Aku tak pernah menyangka bisa berada di tempat ini. Tempat di mana dulu pernah pertama kali aku menginginkannya. Akhirnya dengan ijin Allah aku dihadirkan untuk melangkah di sini. Aku tahu tempat ini tak semua orang bisa menginjakkannya. 

Namun, semua tidak lepas dari rencana Allah untuk setiap hamba yang diinginkan-Nya. Aku merasa sangat beruntung bisa hadir di sini, bersama anak-anak dan guru-guru terbaik. Insantama Sekolah Para Juara.

Mungkinkah suatu saat aku bisa ke sini lagi? Entahlah,, aku berharap suatu saat bisa ke sini lagi. Hari ini dan besok adalah hari terakhirku di sini. Karena lusa aku sudah mengudara ke Banjarbaru, melanjutkan perjalanan dan perjuangan. 

Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya harus meninggalkan tempat ini. Tanpa kusadari aku merasa enggan untuk beranjak.

Tapi aku kembali tersadar, setiap pertemuan ada perpisahan. Ada yang datang juga ada yang harus pergi. Itulah kehidupan. Dia berjalan dan berputar di tempatnya masing-masing. 

Setiap manusia punya kehidupan tersendiri. Jika aku harus ke Banjarbaru, berarti memang kehidupanku ada di Banjarbaru. 

Jika suatu saat aku dihadapkan ke tempat ini lagi, tak lain adalah bagian dari rencana Allah. Bagian dari jalan hidup yang harus kutempuh.

Mungkin orang banyak bertanya, mengapa kehidupan orang mudah? Sedangkan aku harus menanggung beban yang lebih berat. 


Jika kita hanya melihat kemudahan orang lain, kita akan senantiasa merasa iri. Pernahkah kita melihat kesusahan orang lain. Jika kita melihat kesusahan orang lain, bukan kemudahannya saja. Maka, kemungkinan kita akan menyimpulkan bahwa kehidupan kita lebih mudah dibandingkan kehidupan orang lain.

Hakikat manusia memang seperti itu, banyak di antara kita yang kadang tidak sadar dan memahami kehidupan yang sebenarnya. Allah pembuat skenario terindah bagi setiap hamba-hamba-Nya. So, jangan lupa bersyukur atas semua warna kehidupan yang kita alami.
                                                                                                Bogor, 08/10/2018, 13:37




Sabtu, 01 Juni 2019

Liburan

Edisi liburan di kampung halaman. ..Ramadhan mubarak, , H-2 di akhir Ramadhan.. . Merampungkan tulisanku.. . buku ini akan kupersembahkan kepada adik2ku. Doa Untuk Mama. Sebuah tulisan khusus ttg Mama.. Semoga Allah mudahkan

Kamis, 25 April 2019

Tentang Kakak

Kebahagiaan terbesar yang tak terkira adalah ketika berkumpul bersama keluarga.

Keluarga segalanya bagiku.
Nampaknya sederhana, tapi kita punya mimpi yang tinggi.
Mimpi yang tak boleh sederhana, walau kami terlahir dari keluarga yang sederhana.

Kami terlahir dari dua sosok yang sangat menginspirasi.
Dua sosok itulah yang menjadikan kami bisa punya mimpi.
Mimpi yang tak bisa dianggap remeh. Karena mimpi kami begitu besar.

Terlebih, mimpi seorang kakak yang luar biasa.
Entah, mimpi seperti apa yang sudah ia buat.
Entahlah. Yang kutahu dia punya mimpi besar.
Namun, mimpi itu seketika kandas direnggut oleh waktu.

Mimpi yang ia rajut bersama sang imam yang sangat ia cintai. Kini, mimpi itu memudar yang akhirnya kandas bersama hembusan terakhir sang suami.

Tak ada lagi yang sang imam di sisinya. Menjadikan ia mulai goyah. Tapi, dengan berbagai keyakinan dan kekuatan yang tersisa. Ia mulai sadar dan kembali membangun mimpi itu. Karena Allah tidak pernah tidur, membiarkan hamba-Nya sendiri dengan mimpi2 itu. Suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata.


Titip Rindu Buat Ibu

Kulit yang dulu mulus, kini keriput. Tangan yang dulu lembut, kini kasat dimakan usia. Aku tahu perjuanganmu berat melahirkan dan membesarkan kami semua. Tangan ini menjadi saksi atas perjuangan itu. Kini, tangan ini melemah menahan rasa yang berkecamuk. Antara sakit dan rindu. Ibu, aku ingin pulang ke pangkuanmu. Merajut masa depan di hari tuamu.  

TENTANG PERNIKAHAN



“Gimana bisa memahamkan orang tua, pulang aja jarang” kata salah seorang akhwat.

Aku lantas membenarkan kata-katanya. Dalam hati aku berpikir, benar juga. Memahamkan kepada orang tua tentang konsep pernikahan syar’i itu suatu keharusan bagiku.

Apalagi keluargaku, yang tak pernah menyaksikan prosesi pernikahan Islam yang sebenarnya. Ditambah lagi keluargaku tergolong orang yang memegang dan berkaca terhadap kebiasaan orang banyak.

Aku berpikir ribuan kali untuk melangkah kaki ini menuju jalan di depanku. Terlintas dalam pikiranku untuk berhenti mencari jalan celah di persimpangan ini.

Namun, aku sadar kehidupan itu berlanjut. Jika masanya tiba akan datang seseorang yang memintaku untuk menggenapkan separuh agama ini.

Bayanganku masih berkaca. Lorong masa depan seakan terus berkelabat dalam pandanganku. Dalam benakku terus menekupkan rasa yang tak bisa kutafsirkan sendiri. Entah aku tak tahu, apakah aku sudah benar-benar siap atau tidak.

Secara sederhana, sebenarnya aku siap saja. Tapi, setiap ada tawaran. Aku selalu bilang “masih banyak yang perlu dipersiapkan”.

Fisik dan pemikiranku sih siap, tapi ada satu persiapan yang sangat besar bagiku. Memahamkan konsep pernikahan syar’i kepada orang tua.

Inilah persoalan yang sangat sulit bagiku. Aku tak mungkin cukup sekali atau dua kali saja memahamkan mereka. Harus puluhan kali bahkan lebih sampai mereka benar-benar mau menerima konsep itu.

Dan tentu tidak hanya sampai di sini. Tidak cukup hanya dalam keluarga kecil, tapi harus kepada keluarga besarku. Kepada orang yang sangat berpengaruh dalam keluargaku.

Paling tidak dia punya kuasa dalam keluarga besar. Nah, hal ini yang belum aku jajaki sama sekali.

Berkaca dari beberapa pengalaman syabab dan syabah yang melakukan pernikahan. Kalau tidak benar-benar kuat memahamkan keluarga. Ujung-ujungnya, ikhtilat, tidak syar’i.

Ini yang tidak semua orang menginginkan, apalagi orang yang sudah paham Islam. Aku sih berharap semoga nanti yang datang adalah orang yang faham dan bisa difahamkan. Paling tidak dia bisa membantuku menggolkan konsep ini.

Berbicara target, aku tak pernah memasang target tinggi. Aku juga sadar diri, mah. Aku orang biasa. Tak punya apa-apa. Hanya punya modal keyakinan kepada Allah. Cieee… (akhwat idaman ikhwan banget nih,,,) kwkwkwk.

Dulu, sewaktu SMA aku mengidam-idamkan suami seorang arsitek. Keren bagiku. Tapi sekarang aku kembali tersadarkan oleh pemahamanku. Bahwa hal itu bukan suatu keharusan yang menjerat.

Jabatan itu hanya hiasan kehidupan. Jabatan bukan hal utama yang harus ada untuk seorang calon yang terbaik.

Aku juga mulai sadar, keshalihan seseoranglah yang terpenting. Ada perkataan seorang ulama “Aku mencintaimu karena agama dalam dirimu. Jika agama itu hilang, maka hilang pula cintaku”.

Jadi, keshalihan seseorang menjadi hal yang utama untuk seorang imam dalam bahtera rumah tangga. Keshalihan seseorang terpancar dari agamanya. Baik tidaknya agama seseorang bisa dinilai dari akhlaknya. Dan dari akhlak akan terlihat keshalihan seseorang.

Duh, berharap sesegera mungkin menemukan kriteria seperti itu. Ngarep,, haha… sabar Mah, ngga boleh tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu perbuatan setan, kata temanku.

Benar gak yah?
Benarlah, itu kan ada haditsnya. Maksudku, apakah hadits itu juga berlaku untuk pernikahan.

Padahal pernikahan itu merupakan sesuatu yang harus disegerakan. Eett, tunggu dulu. Ada catatannya. Harus siap. Jika belum siap, berlaku tuh haditsnya.

Dalam menentukan pilihan pun aku tidak terlalu ribet. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak memasang target tinggi. Tapi tetap aku juga tidak memilih sembarangan. Kriterianya itu harus ada.

Aku ngga pernah memasang target dia harus penghafal Quran, fasih Bahasa Arab, punya tsaqofah Islam yang luas, punya harta melimpah, ganteng, keren, dan sebagainya.

Tenang aja, aku tak bakalan masang semua target itu. Kasihan mah para ikhwan yang tulus ingin mejalankan sunnah Rasulnya. Hehe

Aku mah, kriterianya sederhana seperti sesederhananya diriku. Tak  perlu tampan, tapi tak bikin malu kalau diajak kondangan. Tak perlu jago Bahasa Arab, tapi dia bisa ngajarin jika aku kesulitan dalam mengartikan kitab-kitab.

Tak harus yang punya tsaqofah luas, yang penting ketika aku punya persoalan yang sulit dalam hidupku dia mampu menjadi problem solver bagi permasalahanku. Tentunya dengan Islam.

Tak mesti kaya, tapi cukup. Cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup untuk berinfak di jalan Allah. Haha… berat dech mah… nggak berat.. kan cukup saja, tak mesti kaya kan..

Banyak orang berpikir, mencari pasangan itu harus inilah. Harus itulah. Banyak kriteria. Akhirnya, nggak nikah-nikah. Karena kelamaan mikir. Itu sih belum jodohnya saja.

Tak perlu bersedih. La tahzan, innallaha ma’ana. Jodoh kita akan datang di waktu yang tepat. Ishbiri ya ukhti, belum dipertemukan Allah dengan si doi.

Dari sekian banyak kriteria di atas, tak semua harus ada. Karena di dunia saat ini sulit menemukan orang seperti itu.

Jadilah yang penting agamanya baik. Dia bisa membimbingku dan keluarga menuju surga-Nya Allah. “Siapa sih yang bisa menjamin seseorang itu baik kalau bukan kita yang mempercayainya”.

Bismillahi, jika agamanya baik, akhlaknya baik. Insya Allah dia tak akan menyakiti kita. Tinggal kita mau mempercayainya atau tidak.

Dan yang terpenting dia orang yang paham dan perhatian dalam setiap kondisi. Cepat tanggap merespon setiap permasalahan rumah tangga.

Dan yang paling terpenting dari semuanya dia orang yang amanah dan bertanggung jawab. Amanah dalam menjalankan kewajiban syariat. Bertanggung jawab terhadap keluarganya dari siksa api neraka.

Yang tak boleh tertinggal mungkin bagaimana proses pernikahan yang sesuai syariat. Pastinya dari proses ta’aruf sampai walimatul ‘usrnya wajib syar’i.

Mulai sekaranglah waktu sedikit demi sedikit memahamkan orang tua dan keluarga. Seperti apa proses ta’aruf dalam Islam. Bagaimana proses pernikahan syar’i sesuai syariat, yang ini nih kudu difahamkan.

Satu hal lagi yang aku inginkan, pernikahan itu tak dibuat ribet. Karena yang ribet itu setelah nikah. Mendamaikan dua orang yang berbeda. Seperti sepasang sendal, berbeda. Namun keduanya saling melengkapi.

Jadi pernikahan syar’i menjadi hal yang wajib untuk mengawali kehidupan sakinah mawaddah warahmah. Ya Allah semoga Engkau mudahkan jalanku.

Dan semoga Engkau pertemukan aku dengannya, sang pemilik hatiku.

_Mukarramah Rasyidah el Fikry_

Kamis, 18 April 2019

Kembali

Kembali ke mana? Kembali ingin mengaktifkan kebiasaan menulisku. Lama banget blogku kosong dari tulisan2. Kegiatanku seakan tak pernah habis. Jelas lah nggak habis, klo habis mah meninggal atuh.

Singkat saja dulu ya, next on...
Semoga bisa menulis di blog satu hari satu tulisan

DILEMA


“Gimana bisa memahamkan orang tua, pulang aja jarang” kata salah seorang akhwat. Aku lantas membenarkan kata-katanya. Dalam hati aku berpikir, benar juga. Memahamkan kepada orang tua tentang konsep pernikahan syar’i itu suatu keharusan bagiku. Apalagi keluargaku, yang tak pernah menyaksikan prosesi pernikahan Islam yang sebenarnya. Ditambah lagi keluargaku tergolong orang yang memegang dan berkaca terhadap kebiasaan orang banyak.

Aku berpikir ribuan kali untuk melangkah kaki ini menuju jalan di depanku. Terlintas dalam pikiranku untuk berhenti mencari jalan celah di persimpangan ini. Namun, aku sadar kehidupan itu berlanjut. Jika masanya tiba akan datang seseorang yang memintaku untuk menggenapkan separuh agama ini.

Bayanganku masih berkaca. Lorong masa depan seakan terus berkelabat dalam pandanganku. Dalam benakku terus menekupkan rasa yang tak bisa kutafsirkan sendiri. Entah aku tak tahu, apakah aku sudah benar-benar siap atau tidak.

Secara sederhana, sebenarnya aku siap saja. Tapi, setiap ada tawaran. Aku selalu bilang “masih banyak yang perlu dipersiapkan”. Fisik dan pemikiranku sih siap, tapi ada satu persiapan yang sangat besar bagiku. Memahamkan konsep pernikahan syar’i kepada orang tua. Inilah persoalan yang sangat sulit bagiku. Aku tak mungkin cukup sekali atau dua kali saja memahamkan mereka. Harus puluhan kali bahkan lebih sampai mereka benar-benar mau menerima konsep itu. Dan tentu tidak hanya sampai di sini. Tidak cukup hanya dalam keluarga kecil, tapi harus kepada keluarga besarku. Kepada orang yang sangat berpengaruh dalam keluargaku. Paling tidak dia punya kuasa dalam keluarga besar. Nah, hal ini yang belum aku jajaki sama sekali.

Berkaca dari beberapa pengalaman syabab dan syabah yang melakukan pernikahan. Kalau tidak benar-benar kuat memahamkan keluarga. Ujung-ujungnya, ikhtilat, tidak syar’I. ini yang tidak semua orang menginginkan, apalagi orang yang sudah paham Islam. Aku sih berharap semoga nanti yang datang adalah orang yang faham dan bisa difahamkan. Paling tidak dia bisa membantuku menggolkan konsep ini.

Berbicara target, aku tak pernah memasang target tinggi. Aku juga sadar diri, mah. Aku orang biasa. Tak punya apa-apa. Hanya punya modal keyakinan kepada Allah. Cieee… (akhwat idaman ikhwan banget nih,,,) kwkwkwk.
Dulu, sewaktu SMA aku mengidam-idamkan suami seorang arsitek. Keren bagiku. Tapi sekarang aku kembali tersadarkan oleh pemahamanku. Bahwa hal itu bukan suatu keharusan yang menjerat. Jabatan itu hanya hiasan kehidupan. Jabatan bukan hal utama yang harus ada untuk seorang calon yang terbaik.

Aku juga mulai sadar, keshalihan seseoranglah yang terpenting. Ada perkataan seorang ulama “Aku mencintaimu karena agama dalam dirimu. Jika agama itu hilang, maka hilang pula cintaku”. Jadi, keshalihan seseorang menjadi hal yang utama untuk seorang imam dalam bahtera rumah tangga. Keshalihan seseorang terpancar dari agamanya. Baik tidaknya agama seseorang bisa dinilai dari akhlaknya. Dan dari akhlak akan terlihat keshalihan seseorang.

Duh, berharap sesegera mungkin menemukan kriteri seperti itu. Ngarep,, haha… sabar Mah, ngga boleh tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu perbuatan setan, kata temanku. Benar gak yah? Benarlah, itu kan ada haditsnya. Maksudku, apakah hadits itu juga berlaku untuk pernikahan. Padahal pernikahan itu merupakan sesuatu yang harus disegerakan. Eett, tunggu dulu. Ada catatannya. Harus siap. Jika belum siap, berlaku tuh haditsnya.

Dalam menentukan pilihan pun aku tidak terlalu ribet. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak memasang target tinggi. Tapi tetap aku juga tidak memilih sembarangan. Kriterianya itu harus ada. Aku ngga pernah memasang target dia harus penghafal Quran, fasih Bahasa Arab, punya tsaqofah Islam yang luas, punya harta melimpah, ganteng, keren, dan sebagainya. Tenang aja, aku tak bakalan masang emua target itu. Kasihan mah para ikhwan yang tulus ingin mejalankan sunnah Rasulnya. Hehe

Aku mah, kriterianya sederhana seperti sesederhananya diriku. Tak  perlu tampan, tapi tak bikin malu kalua diajak kondangan. Tak perlu jago Bahasa Arab, tapi dia bisa ngajarin jika aku kesulitan dalam mengartikan kitab-kitab. Tak harus yang punya tsaqofah luas, yang penting ketika aku punya persoalan yang sulit dalam hidupku dia mampu menjadi problem solver bagi permasalahanku. Tentunya dengan Islam. Tak mesti kaya, tapi cukup. Cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup untuk berinfak di jalan Allah. Haha… berat dech mah… nggak berat.. kan cukup saja, tak mesti kaya kan..

Banyak orang berpikir, mencari pasangan itu harus inilah. Harus itulah. Banyak kriteria. Akhirnya, nggak nikah-nikah. Karena kelamaan mikir. Itu sih belum jodohnya saja. Tak perlu bersedih. La tahzan, innallaha ma’ana. Jodoh kita akan datang di waktu yang tepat. Ishbiri ya ukhti, belum dipertemukan Allah dengan si doi.

Dari sekian banyak kriteria di atas, tak semua harus ada. Karena di dunia saat ini sulit menemukan orang seperti itu. Jadilah yang penting agamanya baik. Dia bisa membimbingku dan keluarga menuju surge-Nya Allah. “Siapa sih yang bisa menjamin seseorang itu baik kalau bukan kita yang mempercayainya”. Bismillahi, jika agamanya baik, akhlaknya baik. Insya Allah dia tak akan menyakiti kita. Tinggal kita mau mempercayainya atau tidak. Dan yang terpenting dia orang yang paham dan perhatian dalam setiap kondisi. Cepat tanggap merespon setiap permasalahan rumah tangga. Dan yang paling terpenting dari semuanya dia orang yang amanah dan bertanggung jawab. Amanah dalam menjalankan kewajiban syariat. Bertanggung jawab terhadap keluarganya dari siksa api neraka.

Yang tak boleh tertinggal mungkin bagaimana proses pernikahan yang sesuai syariat. Pastinya dari proses ta’aruf sampai walimatul ‘usrnya wajib syar’i. mulai sekaranglah waktu sedikit demi sedikit memahamkan orang tua dan keluarga. Seperti apa proses ta’aruf dalam Islam. Bagaimana proses pernikahan syar’I sesuai syariat, yang ini nih kudu difahamkan. Satu hal lagi yang aku inginkan, pernikahan itu tak dibuat ribet. Karena yang ribet itu setelah nikah. Mendamaikan dua orang yang berbeda. Seperti sepasang sendal, berbeda. Namun keduanya saling melengkapi. Jadi pernikahan syar’I menjadi hal yang wajib untuk mengawali kehidupan sakinah mawaddah warahmah. Ya Allah semoga Engkau mudahkan jalanku. Dan semoga Engkau pertemukan aku dengannya, sang pemilik hatiku.

Alhamdulillah

Alhamdulillah, sekitar satu minggu HP-ku sakit. Akhirnya sembuh juga, alhamdulillah 'ala kulli hal. Alhamdulillah juga aku diberi HP Samsung J2 Prime oleh seseorang. Dan aku juga dapat rezeki sehingga bisa beli HP OPPO F9 seharga Rp4.299.000,00. Uang dari aku sendiri hasil dari arisan 2jt dan dikasih seseorang 2jt 300. Aku tahu semua itu datangnya dari Allah melewati orang lain sebagai perantara datangnya rezeki itu. Alhamdulillah 'ala kulli hal.