***
Teringat
sebuah perkataan dari sang ustadz, “kesholihan seorang laki-laki dapat dilihat
dari sholat Subuhnya, dan bagaimana ia memperlakukan ibunya”.
Sebuah
pemandangan langka saat ini ada sosok laki-laki yang masih muda bermunajat di
Subuh buta. Deru motor itu sangat aku kenal. Motor butut keluaran 90an yang
setia menerjang jalan setapak yang terjal.
Seperti
subuh ini, motor itu lewat lagi. Bunyinya mengalahkan alarmku di tempat tidur.
Seperti biasa aku buru-buru membuka tirai jendela. Memastikan apa yang kudengar
tidak keliru.
“Inilah
yang membuat aku semakin yakin, Dialah sosok yang sudah berhasil mencuri
separoh hati dan jantungku. Hatiku bak tersayat sembilu ketika mendengar
suaranya. Ketika berpapasan dengannya membuat kaki serasa tak berpijak. Aku
benar-benar meleleh. Bagai sengatan besi panas.
***
Aku
bingung bagaimana caranya menyembunyikan perasaan ini. Rasa ini semakin
bertambah ketika aku tahu bahwa dia bekerja sekantor denganku. Setiap hari ada
saja tingkah laku yang membuatku salah tingkah.
“Cieee”
kalimat inilah yang setiap hari aku terima dari teman-teman sekantorku.
Anehnya, aku merasa senang mendengarnya. Rasa semakin membuncah dan bunga ini
bermekaran.
“Fi,
hati-hati. Seorang wanita itu dijaga hatinya. Allah mengingatkan kita, jangan
mencintai seseorang berlebihan. Karena bisa jadi ia bukan yang terbaik untuk
kita” kata-kata Ka Kia membuatku tersadar kembali.
“Ka
Kia benar. Tapi aku bingung, ka” Aku menyelunjurkan kaki agar posisiku lebih
rileks.
Ka
Kia masih memainkan sedotan di gelasnya. Sesekali menghirupnya, sambil menunggu
pesanan lalapan lele kesukaannya, Ka Kia melanjutkan kata-katanya.
“Tingkah
laku kamu terlihat Fi,”
“Terlihat
bagaimana Ka?” tanyaku dengan alis sedikit terangkat.
“Yah,
dari sikap yang kamu tunjukkan ketika bertemu dengan dia.”
“Emang
iya?”
“Iyalah,
Semua orang juga tahu bahwa kamu suka dengannya kan?”
“Nggak
kak, biasa aja”
“Nggak
usah bo’ong. Aku tahu koq”
Aku
berkali-kali mengelak, tapi selalu dicecar oleh Ka Kia. Sikapku sudah menjawab
semuanya. Dan ucapanku mewakili isi hatiku. Begitu kata Ka Kia. Aku menyerah.
Ka Kia memang pengamat. Suka mengamati orang lain. Pantes dia menjabat sebagai
Manager.
“Tapi,
aku sedih ka. Dia cuek banget sama aku.”
***
Ramadhan
bulan berkah. Bagiku, Ramadhan kali ini sedikit berbeda. Aktivitasnya lebih
banyak kuhabiskan di kampung halaman bersama keluarga. Lebih pas bersantai sih sebenarnya dari pekerjaan kantor.
Lumayan bisa sedikit menyegarkan pikiranku. Obat penenang stresku salah satunya
pulkam. Kalau boleh aku jujur, aku kadang-kadang ingin lepas dari jeratan yang
mengikatku selama ini.
Menikmati
suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota membuatku sedikit melupakannya. Terlupa
kalau aku punya rasa. Rasa itu jauh hari kutinggalkan. Biarlah rasa itu
berkelana sendiri. Mencarinya bukan sesuatu yang kukehendaki. Saat ini yang
terpenting adalah rasa itu perlahan kubuang. Aku hanya berharap, ia datang
sendiri tanpa aku yang mencarinya.
Seperti
biasa, setelah pulang dari surau. Ayah meraih remot TV dan menyalakannya. “Pagi
ini ada ceramah dari ustadz Abdus Somad” gumamnya. Ayah begitu menikmati
dinginnya suasana pagi ditemani lelucon dari Ustadz Abdus Somad lewat
ceramahnya. Ustadz Abdus Somad salah satu ulama kondang Indonesia yang banyak
digemari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai remaja. Apalagi para orang
tua, mereka begitu mengidolakan.
Di
samping si ceramahnya yang bagus, beliau selalu menyelipkan homur Islami. Inilah
yang membuat orang lebih mudah menerima isi ceramah beliau. Ayahku salah satu
fansnya Ustadz Abdus Somad. Tiap hari tidak pernah absen dari ceramahnya.
***
Hmm, aku pulang ingin
menenangkan pikiranku yang berkelabat belakangan ini. Entah kenapa aku merasa
gelisah. Ya Allah haruskah aku ungkapkan kegelisahanku pada-Mu. Aku malu dengan-Mu
ya Allah. Aku belum bisa menghilangkan kegelisahan ini. Entah sampai kapan bisa
berakhir. Ya Allah tolong bantu aku. Aku merindukan seseorang.
Saat
jenuh merongrong jiwa. Rasa yang tak mampu kubendung. Rindu yang kian
membuncah. Tak ada daya dan upaya selain meminta kepada-Nya.
Di
pertigaan malam aku terjaga. Membasuh mata yang terlelap. Bermunajat syahdu
lewat rangkaian sujud. Di penghujung doa tak henti-hentinya menghamba.
“Ya
Allah, di bulan yang penuh berkah ini izinkan aku meminta kepada-Mu. Jika ada
orang yang serius berniat baik. Maka tunjukkanlah dengan cara-Mu. Aku hanya
ingin cinta suci ini terjalin dalam ikatan pernikahan.”
“Assalamu’alaikum
ukhti. Ukhti sudah ada calon? Kalau belum ada, insya Allah saya berniat
memberikan yang terbaik untuk ukhti”.
Sebuah
pesan wathsapp masuk di ponselku. Bagai disengat aliran listrik ketika kubaca
pesan singkat. Mengisyaratkan satu makna yang didamba oleh setiap para jomblo.
Catt: Nemu tulisan ini di laptop. Tenyata, ditulis 22 Agustus 2019
Agak lucu sih, baca-baca tulisan dulu. wkwk
Maklumlah yah! Hhe