Rabu, 25 Maret 2020

Antara Sakit dan Rindu






“Nggak ada yang kangennya sama mamakah? Mama sudah sakit tiga hari”. Sebuah chat Kak Ramli di wagrup keluarga. Sebuah pesan yang sangat menusuk bagiku. Aku langsung memutuskan untuk pulang. Seingatku ini adalah kali kedua mama sakit. Aku mengenal mama adalah wanita yang kuat. Jarang sakit.

Aku ngambil izin pulang di hari sekolah, hari Jumat. Aku pulang dengan adikku, Maryam. Kurang labih 4 jam perjalanan, kami sampai di rumah. Rumah sederhana di tepian sawah. Rumah yang mengisyaratkan kedamaian jauh dari kebisingan. Inilah alasan aku selalu kangen dengan suasana rumah.

“Assalamu’alaikum” ucapku ketika kaki menginjak pelataran rumah. Di sana sudah ada kakakku yang menunggu. Ternyata kedatangan kami dinantikan mereka.

Aku dan Maryam langsung sungkeman dengan Abah dan Mama. Ketika kusentuh tangan Mama, aku merasakan sengatan hangat yang merayap. Kulit yang dulu mulus, kini keriput. Tangan yang dulu lembut, kini kasat dimakan usia. Aku tahu perjauanganmu berat melahirkan dan membesarkan kami semua. Tangan ini menjadi saksi atas perjuanganmu.

Kini, tangan itu melemah menahan rasa yang berkecamuk. Antara sakit dan rindu. Mama, aku ingin pulang ke pangkuanmu setiap saat. Merajut masa depan di hari tuamu.

Setelah menaruh tas di kamar. Aku dan Maryam duduk bersisian di ranjang tempat Mama berbaring. “Ma, gimana masih sakit. Sakitnya di mana?” tanya kami bersamaan.

“Perut bagian sini terasa sakit. Sudah tiga hari belum sembuh-sembuh,” ucap Mama lirih menahan sakit sambil memegang perut bagian kiri.