Sabtu, 04 Januari 2020

DUNIA SEMPIT, YA?

Dunia begitu sempit. tak seluas daun kelor. Kadang kita tak sempat berfikir bagaimana bisa dipertemukan dengan seseorang.

Allah hadirkan seseorang di hadapan kita untuk maksud tertentu. Tak ada kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur sempurna oleh-Nya yang Maha Sempurna.

Jangan sia-siakan orang yang hadir dalam kehidupan kita. Baik itu sebagai teman, sahabat, anak, ataupun pasangan. Karena kita tak selamanya bersama. Pasti akan berpisah.

Mereka yang pergi (mati), takkan mungkin bisa kembali. Hanya ada satu yang pergi (ke Allah), dan ia akan kembali (ke kita) yaitu doa.

Untuk orang yang saat dulu, kini, dan akan datang, doakan mereka. Karena tak ada untaian kata terindah selain doa untuk masa lalu, kini, dan masa depan kita.

Banjarbaru, 4/1/2020

_Mukarramah Rasyidah el Fikry_

Kamis, 02 Januari 2020

Maukah Kau Menjadi Takdirku?


Maukah Kau Menjadi Takdirku?

Aku pernah mendengar, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Benarkah jodoh atau pasangan hidup kita merupakan cerminan diri kita. sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam firman Allah Swt berikut ini.
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur; 26)

Sesuai ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa jodoh itu cerminan diri sendiri. Jangan hanya berharap dapat yang terbaik kalau kamu belum berhasil menjadi versi terbaikmu.
Jangan berharap tinggi, kalau kamu masih malas berbenah diri. Karena hidup tak seindah dongeng di mana pangeran impianmu akan datang tiba-tiba.
Berbenah diri bukan hanya tentang memoles wajah dan penampilan. Tapi juga akhlakmu pada diri sendiri dan orang lain.
Boleh saja kamu bermimpi memiliki pendamping hidup yang mapan dan berpendidikan. Tapi, sejajarkan dirimu untuk berada di level yang sama dengannya.
Berbenah diri tak berarti melarangmu menjadi pribadi yang apa adanya. Tapi, menerima diri apa adanya.
Antara dirimu dengan jodoh punya sifat yang berbeda dan saling mengisi. Tapi, jangan mendamba pria yang sempurna hanya untuk mengisi kekuranganmu.
Jika sudah mengupayakan menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu hanya tinggal menunggu sang pemilik hati mempertemukanmu dengannya.

Entah kali kesekian kucoba merutuki hati. Entah berapa kali kucoba menutupi kegundahan hati tiap kali membaca tulisan itu. aku kembali tersadar mengaguminya sejak dulu sampai sekarang adalah sesuatu yang naif.
Ya Allah aku tahu rasa ini tak salah hinggap dan bersemi di hatiku. Tapi salahlah jika aku meminta dia yang menjadi takdir dalam hidupku?
Siapapun dia, untuk seseorang yang Allah gariskan untukku.. Entah ada di belahan dan sedang apa dia. Entah seperti apa dirinya. Yang kutahu, mungkin dia tengah berada di tempat yang sama dan melakukan hal yang sama seperti aku saat ini.

Maukah kau menetap di sini?
Di hunian sederhana, dengan cinta yang sederhana pula.
Aku memang tak memiliki keindahan.
Tapi setidaknya ada secawan ketulusan.
Maukah kau tinggal di sini?
Takkan kupinta cinta yang istimewa. Pun sayang seluas samudra.
Cukup jadikanku tempatmu pulang.
Itu sudah memberiku kebahagiaan.
Maukah kau menjadi takdirku?
Menjadi penggenap agamaku.
Mengimamiku di setiap ruku dan sujudku.
Dan izinkan aku yang mengaminimu, di setiap kali kau langitkan doamu.

I hope he is my destiny, Ya Allah…
Someone who wants to accept me as is.
_Menjadi imam terbaik yang membimbingku menuju surga-Nya Allah Swt_

Hadikat, 3/1/2019

Mukarramah Rasyidah el Fikry