Maukah
Kau Menjadi Takdirku?
Aku pernah mendengar,
jodoh kita adalah cerminan diri kita. Benarkah jodoh atau pasangan hidup kita
merupakan cerminan diri kita. sebagaimana yang pernah diungkapkan dalam firman
Allah Swt berikut ini.
“Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula). (QS. An-Nur; 26)
Sesuai ayat di
atas bisa kita simpulkan bahwa jodoh itu cerminan diri sendiri. Jangan hanya
berharap dapat yang terbaik kalau kamu belum berhasil menjadi versi terbaikmu.
Jangan berharap
tinggi, kalau kamu masih malas berbenah diri. Karena hidup tak seindah dongeng
di mana pangeran impianmu akan datang tiba-tiba.
Berbenah diri
bukan hanya tentang memoles wajah dan penampilan. Tapi juga akhlakmu pada diri
sendiri dan orang lain.
Boleh saja kamu
bermimpi memiliki pendamping hidup yang mapan dan berpendidikan. Tapi,
sejajarkan dirimu untuk berada di level yang sama dengannya.
Berbenah diri tak
berarti melarangmu menjadi pribadi yang apa adanya. Tapi, menerima diri apa
adanya.
Antara dirimu dengan
jodoh punya sifat yang berbeda dan saling mengisi. Tapi, jangan mendamba pria
yang sempurna hanya untuk mengisi kekuranganmu.
Jika sudah
mengupayakan menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu hanya tinggal menunggu sang
pemilik hati mempertemukanmu dengannya.
Entah kali
kesekian kucoba merutuki hati. Entah berapa kali kucoba menutupi kegundahan
hati tiap kali membaca tulisan itu. aku kembali tersadar mengaguminya sejak
dulu sampai sekarang adalah sesuatu yang naif.
Ya Allah aku tahu
rasa ini tak salah hinggap dan bersemi di hatiku. Tapi salahlah jika aku
meminta dia yang menjadi takdir dalam hidupku?
Siapapun dia, untuk
seseorang yang Allah gariskan untukku.. Entah ada di belahan dan sedang apa
dia. Entah seperti apa dirinya. Yang kutahu, mungkin dia tengah berada di
tempat yang sama dan melakukan hal yang sama seperti aku saat ini.
Maukah kau menetap di
sini?
Di hunian sederhana,
dengan cinta yang sederhana pula.
Aku memang tak memiliki
keindahan.
Tapi setidaknya ada
secawan ketulusan.
Maukah kau tinggal di
sini?
Takkan kupinta cinta yang
istimewa. Pun sayang seluas samudra.
Cukup jadikanku tempatmu
pulang.
Itu sudah memberiku
kebahagiaan.
Maukah kau menjadi
takdirku?
Menjadi penggenap agamaku.
Mengimamiku di setiap
ruku dan sujudku.
Dan izinkan aku yang
mengaminimu, di setiap kali kau langitkan doamu.
I
hope he is my destiny, Ya Allah…
Someone
who wants to accept me as is.
_Menjadi
imam terbaik yang membimbingku menuju surga-Nya Allah Swt_
Hadikat, 3/1/2019
Mukarramah Rasyidah el Fikry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar