“Nggak
ada yang kangennya sama mamakah? Mama sudah sakit tiga hari”. Sebuah chat Kak
Ramli di wagrup keluarga. Sebuah pesan yang sangat menusuk bagiku. Aku langsung
memutuskan untuk pulang. Seingatku ini adalah kali kedua mama sakit. Aku
mengenal mama adalah wanita yang kuat. Jarang sakit.
Aku
ngambil izin pulang di hari sekolah, hari Jumat. Aku pulang dengan adikku,
Maryam. Kurang labih 4 jam perjalanan, kami sampai di rumah. Rumah sederhana di
tepian sawah. Rumah yang mengisyaratkan kedamaian jauh dari kebisingan. Inilah
alasan aku selalu kangen dengan suasana rumah.
“Assalamu’alaikum”
ucapku ketika kaki menginjak pelataran rumah. Di sana sudah ada kakakku yang
menunggu. Ternyata kedatangan kami dinantikan mereka.
Aku
dan Maryam langsung sungkeman dengan Abah dan Mama. Ketika kusentuh tangan
Mama, aku merasakan sengatan hangat yang merayap. Kulit yang dulu mulus, kini
keriput. Tangan yang dulu lembut, kini kasat dimakan usia. Aku tahu
perjauanganmu berat melahirkan dan membesarkan kami semua. Tangan ini menjadi
saksi atas perjuanganmu.
Kini,
tangan itu melemah menahan rasa yang berkecamuk. Antara sakit dan rindu. Mama,
aku ingin pulang ke pangkuanmu setiap saat. Merajut masa depan di hari tuamu.
Setelah
menaruh tas di kamar. Aku dan Maryam duduk bersisian di ranjang tempat Mama
berbaring. “Ma, gimana masih sakit. Sakitnya di mana?” tanya kami bersamaan.
“Perut
bagian sini terasa sakit. Sudah tiga hari belum sembuh-sembuh,” ucap Mama lirih
menahan sakit sambil memegang perut bagian kiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar