Rabu, 04 September 2024

MENGAPA ADA RINDU?



***

Teringat sebuah perkataan dari sang ustadz, “kesholihan seorang laki-laki dapat dilihat dari sholat Subuhnya, dan bagaimana ia memperlakukan ibunya”. 

 

Sebuah pemandangan langka saat ini ada sosok laki-laki yang masih muda bermunajat di Subuh buta. Deru motor itu sangat aku kenal. Motor butut keluaran 90an yang setia menerjang jalan setapak yang terjal.

 

Seperti subuh ini, motor itu lewat lagi. Bunyinya mengalahkan alarmku di tempat tidur. Seperti biasa aku buru-buru membuka tirai jendela. Memastikan apa yang kudengar tidak keliru.

 

“Inilah yang membuat aku semakin yakin, Dialah sosok yang sudah berhasil mencuri separoh hati dan jantungku. Hatiku bak tersayat sembilu ketika mendengar suaranya. Ketika berpapasan dengannya membuat kaki serasa tak berpijak. Aku benar-benar meleleh. Bagai sengatan besi panas.

 

***

Aku bingung bagaimana caranya menyembunyikan perasaan ini. Rasa ini semakin bertambah ketika aku tahu bahwa dia bekerja sekantor denganku. Setiap hari ada saja tingkah laku yang membuatku salah tingkah.

 

“Cieee” kalimat inilah yang setiap hari aku terima dari teman-teman sekantorku. Anehnya, aku merasa senang mendengarnya. Rasa semakin membuncah dan bunga ini bermekaran.

 

“Fi, hati-hati. Seorang wanita itu dijaga hatinya. Allah mengingatkan kita, jangan mencintai seseorang berlebihan. Karena bisa jadi ia bukan yang terbaik untuk kita” kata-kata Ka Kia membuatku tersadar kembali.

 

“Ka Kia benar. Tapi aku bingung, ka” Aku menyelunjurkan kaki agar posisiku lebih rileks.

 

Ka Kia masih memainkan sedotan di gelasnya. Sesekali menghirupnya, sambil menunggu pesanan lalapan lele kesukaannya, Ka Kia melanjutkan kata-katanya.

 

“Tingkah laku kamu terlihat Fi,”

“Terlihat bagaimana Ka?” tanyaku dengan alis sedikit terangkat.

“Yah, dari sikap yang kamu tunjukkan ketika bertemu dengan dia.”

“Emang iya?”

“Iyalah, Semua orang juga tahu bahwa kamu suka dengannya kan?”

“Nggak kak, biasa aja”

“Nggak usah bo’ong. Aku tahu koq”

 

Aku berkali-kali mengelak, tapi selalu dicecar oleh Ka Kia. Sikapku sudah menjawab semuanya. Dan ucapanku mewakili isi hatiku. Begitu kata Ka Kia. Aku menyerah. Ka Kia memang pengamat. Suka mengamati orang lain. Pantes dia menjabat sebagai Manager.

 

“Tapi, aku sedih ka. Dia cuek banget sama aku.”

 

***

Ramadhan bulan berkah. Bagiku, Ramadhan kali ini sedikit berbeda. Aktivitasnya lebih banyak kuhabiskan di kampung halaman bersama keluarga. Lebih pas bersantai sih sebenarnya dari pekerjaan kantor. Lumayan bisa sedikit menyegarkan pikiranku. Obat penenang stresku salah satunya pulkam. Kalau boleh aku jujur, aku kadang-kadang ingin lepas dari jeratan yang mengikatku selama ini.

 

Menikmati suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota membuatku sedikit melupakannya. Terlupa kalau aku punya rasa. Rasa itu jauh hari kutinggalkan. Biarlah rasa itu berkelana sendiri. Mencarinya bukan sesuatu yang kukehendaki. Saat ini yang terpenting adalah rasa itu perlahan kubuang. Aku hanya berharap, ia datang sendiri tanpa aku yang mencarinya.

 

Seperti biasa, setelah pulang dari surau. Ayah meraih remot TV dan menyalakannya. “Pagi ini ada ceramah dari ustadz Abdus Somad” gumamnya. Ayah begitu menikmati dinginnya suasana pagi ditemani lelucon dari Ustadz Abdus Somad lewat ceramahnya. Ustadz Abdus Somad salah satu ulama kondang Indonesia yang banyak digemari berbagai kalangan, dari anak-anak sampai remaja. Apalagi para orang tua, mereka begitu mengidolakan.

 

Di samping si ceramahnya yang bagus, beliau selalu menyelipkan homur Islami. Inilah yang membuat orang lebih mudah menerima isi ceramah beliau. Ayahku salah satu fansnya Ustadz Abdus Somad. Tiap hari tidak pernah absen dari ceramahnya.

 

***

Hmm, aku pulang ingin menenangkan pikiranku yang berkelabat belakangan ini. Entah kenapa aku merasa gelisah. Ya Allah haruskah aku ungkapkan kegelisahanku pada-Mu. Aku malu dengan-Mu ya Allah. Aku belum bisa menghilangkan kegelisahan ini. Entah sampai kapan bisa berakhir. Ya Allah tolong bantu aku. Aku merindukan seseorang.

 

Saat jenuh merongrong jiwa. Rasa yang tak mampu kubendung. Rindu yang kian membuncah. Tak ada daya dan upaya selain meminta kepada-Nya.

 

Di pertigaan malam aku terjaga. Membasuh mata yang terlelap. Bermunajat syahdu lewat rangkaian sujud. Di penghujung doa tak henti-hentinya menghamba.

 

“Ya Allah, di bulan yang penuh berkah ini izinkan aku meminta kepada-Mu. Jika ada orang yang serius berniat baik. Maka tunjukkanlah dengan cara-Mu. Aku hanya ingin cinta suci ini terjalin dalam ikatan pernikahan.”

 

“Assalamu’alaikum ukhti. Ukhti sudah ada calon? Kalau belum ada, insya Allah saya berniat memberikan yang terbaik untuk ukhti”.

 

Sebuah pesan wathsapp masuk di ponselku. Bagai disengat aliran listrik ketika kubaca pesan singkat. Mengisyaratkan satu makna yang didamba oleh setiap para jomblo.


Catt: Nemu tulisan ini di laptop. Tenyata, ditulis 22 Agustus 2019
Agak lucu sih, baca-baca tulisan dulu. wkwk
Maklumlah yah! Hhe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar