//Coretan Akhir di Kota Hujan//
Aku tak pernah menyangka bisa berada di tempat ini. Tempat di
mana dulu pernah pertama kali aku menginginkannya. Akhirnya dengan ijin Allah
aku dihadirkan untuk melangkah di sini. Aku tahu tempat ini tak semua orang
bisa menginjakkannya.
Namun, semua tidak lepas dari rencana Allah untuk setiap
hamba yang diinginkan-Nya. Aku merasa sangat beruntung bisa hadir di sini,
bersama anak-anak dan guru-guru terbaik. Insantama Sekolah Para Juara.
Mungkinkah suatu saat aku bisa ke sini lagi? Entahlah,, aku
berharap suatu saat bisa ke sini lagi. Hari ini dan besok adalah hari
terakhirku di sini. Karena lusa aku sudah mengudara ke Banjarbaru, melanjutkan
perjalanan dan perjuangan.
Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya harus
meninggalkan tempat ini. Tanpa kusadari aku merasa enggan untuk beranjak.
Tapi aku kembali tersadar, setiap pertemuan ada perpisahan.
Ada yang datang juga ada yang harus pergi. Itulah kehidupan. Dia berjalan dan
berputar di tempatnya masing-masing.
Setiap manusia punya kehidupan tersendiri.
Jika aku harus ke Banjarbaru, berarti memang kehidupanku ada di Banjarbaru.
Jika suatu saat aku dihadapkan ke tempat ini lagi, tak lain adalah bagian dari
rencana Allah. Bagian dari jalan hidup yang harus kutempuh.
Mungkin orang banyak bertanya, mengapa kehidupan orang mudah?
Sedangkan aku harus menanggung beban yang lebih berat.
Jika kita hanya melihat
kemudahan orang lain, kita akan senantiasa merasa iri. Pernahkah kita melihat
kesusahan orang lain. Jika kita melihat kesusahan orang lain, bukan
kemudahannya saja. Maka, kemungkinan kita akan menyimpulkan bahwa kehidupan
kita lebih mudah dibandingkan kehidupan orang lain.
Hakikat manusia memang seperti itu, banyak di antara kita
yang kadang tidak sadar dan memahami kehidupan yang sebenarnya. Allah pembuat skenario
terindah bagi setiap hamba-hamba-Nya. So, jangan lupa bersyukur atas semua
warna kehidupan yang kita alami.
Bogor,
08/10/2018, 13:37

Tidak ada komentar:
Posting Komentar