“Gimana
bisa memahamkan orang tua, pulang aja jarang” kata salah seorang akhwat. Aku
lantas membenarkan kata-katanya. Dalam hati aku berpikir, benar juga.
Memahamkan kepada orang tua tentang konsep pernikahan syar’i itu suatu
keharusan bagiku. Apalagi keluargaku, yang tak pernah menyaksikan prosesi
pernikahan Islam yang sebenarnya. Ditambah lagi keluargaku tergolong orang yang
memegang dan berkaca terhadap kebiasaan orang banyak.
Aku
berpikir ribuan kali untuk melangkah kaki ini menuju jalan di depanku.
Terlintas dalam pikiranku untuk berhenti mencari jalan celah di persimpangan
ini. Namun, aku sadar kehidupan itu berlanjut. Jika masanya tiba akan datang
seseorang yang memintaku untuk menggenapkan separuh agama ini.
Bayanganku
masih berkaca. Lorong masa depan seakan terus berkelabat dalam pandanganku.
Dalam benakku terus menekupkan rasa yang tak bisa kutafsirkan sendiri. Entah
aku tak tahu, apakah aku sudah benar-benar siap atau tidak.
Secara
sederhana, sebenarnya aku siap saja. Tapi, setiap ada tawaran. Aku selalu
bilang “masih banyak yang perlu dipersiapkan”. Fisik dan pemikiranku sih siap,
tapi ada satu persiapan yang sangat besar bagiku. Memahamkan konsep pernikahan
syar’i kepada orang tua. Inilah persoalan yang sangat sulit bagiku. Aku tak
mungkin cukup sekali atau dua kali saja memahamkan mereka. Harus puluhan kali
bahkan lebih sampai mereka benar-benar mau menerima konsep itu. Dan tentu tidak
hanya sampai di sini. Tidak cukup hanya dalam keluarga kecil, tapi harus kepada
keluarga besarku. Kepada orang yang sangat berpengaruh dalam keluargaku. Paling
tidak dia punya kuasa dalam keluarga besar. Nah, hal ini yang belum aku jajaki
sama sekali.
Berkaca
dari beberapa pengalaman syabab dan syabah yang melakukan pernikahan. Kalau
tidak benar-benar kuat memahamkan keluarga. Ujung-ujungnya, ikhtilat, tidak
syar’I. ini yang tidak semua orang menginginkan, apalagi orang yang sudah paham
Islam. Aku sih berharap semoga nanti yang datang adalah orang yang faham dan
bisa difahamkan. Paling tidak dia bisa membantuku menggolkan konsep ini.
Berbicara
target, aku tak pernah memasang target tinggi. Aku juga sadar diri, mah. Aku
orang biasa. Tak punya apa-apa. Hanya punya modal keyakinan kepada Allah.
Cieee… (akhwat idaman ikhwan banget nih,,,) kwkwkwk.
Dulu,
sewaktu SMA aku mengidam-idamkan suami seorang arsitek. Keren bagiku. Tapi
sekarang aku kembali tersadarkan oleh pemahamanku. Bahwa hal itu bukan suatu
keharusan yang menjerat. Jabatan itu hanya hiasan kehidupan. Jabatan bukan hal
utama yang harus ada untuk seorang calon yang terbaik.
Aku juga
mulai sadar, keshalihan seseoranglah yang terpenting. Ada perkataan seorang
ulama “Aku mencintaimu karena agama dalam dirimu. Jika agama itu hilang, maka
hilang pula cintaku”. Jadi, keshalihan seseorang menjadi hal yang utama untuk
seorang imam dalam bahtera rumah tangga. Keshalihan seseorang terpancar dari
agamanya. Baik tidaknya agama seseorang bisa dinilai dari akhlaknya. Dan dari
akhlak akan terlihat keshalihan seseorang.
Duh,
berharap sesegera mungkin menemukan kriteri seperti itu. Ngarep,, haha… sabar
Mah, ngga boleh tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu perbuatan setan, kata
temanku. Benar gak yah? Benarlah, itu kan ada haditsnya. Maksudku, apakah
hadits itu juga berlaku untuk pernikahan. Padahal pernikahan itu merupakan
sesuatu yang harus disegerakan. Eett, tunggu dulu. Ada catatannya. Harus siap.
Jika belum siap, berlaku tuh haditsnya.
Dalam
menentukan pilihan pun aku tidak terlalu ribet. Seperti yang kukatakan
sebelumnya, aku tidak memasang target tinggi. Tapi tetap aku juga tidak memilih
sembarangan. Kriterianya itu harus ada. Aku ngga pernah memasang target dia
harus penghafal Quran, fasih Bahasa Arab, punya tsaqofah Islam yang luas, punya
harta melimpah, ganteng, keren, dan sebagainya. Tenang aja, aku tak bakalan
masang emua target itu. Kasihan mah para ikhwan yang tulus ingin mejalankan
sunnah Rasulnya. Hehe
Aku mah,
kriterianya sederhana seperti sesederhananya diriku. Tak perlu tampan, tapi tak bikin malu kalua
diajak kondangan. Tak perlu jago Bahasa Arab, tapi dia bisa ngajarin jika aku
kesulitan dalam mengartikan kitab-kitab. Tak harus yang punya tsaqofah luas,
yang penting ketika aku punya persoalan yang sulit dalam hidupku dia mampu
menjadi problem solver bagi permasalahanku. Tentunya dengan Islam. Tak mesti
kaya, tapi cukup. Cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup untuk berinfak di
jalan Allah. Haha… berat dech mah… nggak berat.. kan cukup saja, tak mesti kaya
kan..
Banyak
orang berpikir, mencari pasangan itu harus inilah. Harus itulah. Banyak kriteria.
Akhirnya, nggak nikah-nikah. Karena kelamaan mikir. Itu sih belum jodohnya
saja. Tak perlu bersedih. La tahzan, innallaha ma’ana. Jodoh kita akan datang
di waktu yang tepat. Ishbiri ya ukhti, belum dipertemukan Allah dengan si doi.
Dari
sekian banyak kriteria di atas, tak semua harus ada. Karena di dunia saat ini
sulit menemukan orang seperti itu. Jadilah yang penting agamanya baik. Dia bisa
membimbingku dan keluarga menuju surge-Nya Allah. “Siapa sih yang bisa menjamin
seseorang itu baik kalau bukan kita yang mempercayainya”. Bismillahi, jika
agamanya baik, akhlaknya baik. Insya Allah dia tak akan menyakiti kita. Tinggal
kita mau mempercayainya atau tidak. Dan yang terpenting dia orang yang paham
dan perhatian dalam setiap kondisi. Cepat tanggap merespon setiap permasalahan
rumah tangga. Dan yang paling terpenting dari semuanya dia orang yang amanah
dan bertanggung jawab. Amanah dalam menjalankan kewajiban syariat. Bertanggung
jawab terhadap keluarganya dari siksa api neraka.
Yang tak
boleh tertinggal mungkin bagaimana proses pernikahan yang sesuai syariat.
Pastinya dari proses ta’aruf sampai walimatul ‘usrnya wajib syar’i. mulai
sekaranglah waktu sedikit demi sedikit memahamkan orang tua dan keluarga.
Seperti apa proses ta’aruf dalam Islam. Bagaimana proses pernikahan syar’I
sesuai syariat, yang ini nih kudu difahamkan. Satu hal lagi yang aku inginkan,
pernikahan itu tak dibuat ribet. Karena yang ribet itu setelah nikah.
Mendamaikan dua orang yang berbeda. Seperti sepasang sendal, berbeda. Namun
keduanya saling melengkapi. Jadi pernikahan syar’I menjadi hal yang wajib untuk
mengawali kehidupan sakinah mawaddah warahmah. Ya Allah semoga Engkau mudahkan
jalanku. Dan semoga Engkau pertemukan aku dengannya, sang pemilik hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar