Kamis, 25 April 2019

TENTANG PERNIKAHAN



“Gimana bisa memahamkan orang tua, pulang aja jarang” kata salah seorang akhwat.

Aku lantas membenarkan kata-katanya. Dalam hati aku berpikir, benar juga. Memahamkan kepada orang tua tentang konsep pernikahan syar’i itu suatu keharusan bagiku.

Apalagi keluargaku, yang tak pernah menyaksikan prosesi pernikahan Islam yang sebenarnya. Ditambah lagi keluargaku tergolong orang yang memegang dan berkaca terhadap kebiasaan orang banyak.

Aku berpikir ribuan kali untuk melangkah kaki ini menuju jalan di depanku. Terlintas dalam pikiranku untuk berhenti mencari jalan celah di persimpangan ini.

Namun, aku sadar kehidupan itu berlanjut. Jika masanya tiba akan datang seseorang yang memintaku untuk menggenapkan separuh agama ini.

Bayanganku masih berkaca. Lorong masa depan seakan terus berkelabat dalam pandanganku. Dalam benakku terus menekupkan rasa yang tak bisa kutafsirkan sendiri. Entah aku tak tahu, apakah aku sudah benar-benar siap atau tidak.

Secara sederhana, sebenarnya aku siap saja. Tapi, setiap ada tawaran. Aku selalu bilang “masih banyak yang perlu dipersiapkan”.

Fisik dan pemikiranku sih siap, tapi ada satu persiapan yang sangat besar bagiku. Memahamkan konsep pernikahan syar’i kepada orang tua.

Inilah persoalan yang sangat sulit bagiku. Aku tak mungkin cukup sekali atau dua kali saja memahamkan mereka. Harus puluhan kali bahkan lebih sampai mereka benar-benar mau menerima konsep itu.

Dan tentu tidak hanya sampai di sini. Tidak cukup hanya dalam keluarga kecil, tapi harus kepada keluarga besarku. Kepada orang yang sangat berpengaruh dalam keluargaku.

Paling tidak dia punya kuasa dalam keluarga besar. Nah, hal ini yang belum aku jajaki sama sekali.

Berkaca dari beberapa pengalaman syabab dan syabah yang melakukan pernikahan. Kalau tidak benar-benar kuat memahamkan keluarga. Ujung-ujungnya, ikhtilat, tidak syar’i.

Ini yang tidak semua orang menginginkan, apalagi orang yang sudah paham Islam. Aku sih berharap semoga nanti yang datang adalah orang yang faham dan bisa difahamkan. Paling tidak dia bisa membantuku menggolkan konsep ini.

Berbicara target, aku tak pernah memasang target tinggi. Aku juga sadar diri, mah. Aku orang biasa. Tak punya apa-apa. Hanya punya modal keyakinan kepada Allah. Cieee… (akhwat idaman ikhwan banget nih,,,) kwkwkwk.

Dulu, sewaktu SMA aku mengidam-idamkan suami seorang arsitek. Keren bagiku. Tapi sekarang aku kembali tersadarkan oleh pemahamanku. Bahwa hal itu bukan suatu keharusan yang menjerat.

Jabatan itu hanya hiasan kehidupan. Jabatan bukan hal utama yang harus ada untuk seorang calon yang terbaik.

Aku juga mulai sadar, keshalihan seseoranglah yang terpenting. Ada perkataan seorang ulama “Aku mencintaimu karena agama dalam dirimu. Jika agama itu hilang, maka hilang pula cintaku”.

Jadi, keshalihan seseorang menjadi hal yang utama untuk seorang imam dalam bahtera rumah tangga. Keshalihan seseorang terpancar dari agamanya. Baik tidaknya agama seseorang bisa dinilai dari akhlaknya. Dan dari akhlak akan terlihat keshalihan seseorang.

Duh, berharap sesegera mungkin menemukan kriteria seperti itu. Ngarep,, haha… sabar Mah, ngga boleh tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa itu perbuatan setan, kata temanku.

Benar gak yah?
Benarlah, itu kan ada haditsnya. Maksudku, apakah hadits itu juga berlaku untuk pernikahan.

Padahal pernikahan itu merupakan sesuatu yang harus disegerakan. Eett, tunggu dulu. Ada catatannya. Harus siap. Jika belum siap, berlaku tuh haditsnya.

Dalam menentukan pilihan pun aku tidak terlalu ribet. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak memasang target tinggi. Tapi tetap aku juga tidak memilih sembarangan. Kriterianya itu harus ada.

Aku ngga pernah memasang target dia harus penghafal Quran, fasih Bahasa Arab, punya tsaqofah Islam yang luas, punya harta melimpah, ganteng, keren, dan sebagainya.

Tenang aja, aku tak bakalan masang semua target itu. Kasihan mah para ikhwan yang tulus ingin mejalankan sunnah Rasulnya. Hehe

Aku mah, kriterianya sederhana seperti sesederhananya diriku. Tak  perlu tampan, tapi tak bikin malu kalau diajak kondangan. Tak perlu jago Bahasa Arab, tapi dia bisa ngajarin jika aku kesulitan dalam mengartikan kitab-kitab.

Tak harus yang punya tsaqofah luas, yang penting ketika aku punya persoalan yang sulit dalam hidupku dia mampu menjadi problem solver bagi permasalahanku. Tentunya dengan Islam.

Tak mesti kaya, tapi cukup. Cukup beli rumah, cukup beli mobil, cukup untuk berinfak di jalan Allah. Haha… berat dech mah… nggak berat.. kan cukup saja, tak mesti kaya kan..

Banyak orang berpikir, mencari pasangan itu harus inilah. Harus itulah. Banyak kriteria. Akhirnya, nggak nikah-nikah. Karena kelamaan mikir. Itu sih belum jodohnya saja.

Tak perlu bersedih. La tahzan, innallaha ma’ana. Jodoh kita akan datang di waktu yang tepat. Ishbiri ya ukhti, belum dipertemukan Allah dengan si doi.

Dari sekian banyak kriteria di atas, tak semua harus ada. Karena di dunia saat ini sulit menemukan orang seperti itu.

Jadilah yang penting agamanya baik. Dia bisa membimbingku dan keluarga menuju surga-Nya Allah. “Siapa sih yang bisa menjamin seseorang itu baik kalau bukan kita yang mempercayainya”.

Bismillahi, jika agamanya baik, akhlaknya baik. Insya Allah dia tak akan menyakiti kita. Tinggal kita mau mempercayainya atau tidak.

Dan yang terpenting dia orang yang paham dan perhatian dalam setiap kondisi. Cepat tanggap merespon setiap permasalahan rumah tangga.

Dan yang paling terpenting dari semuanya dia orang yang amanah dan bertanggung jawab. Amanah dalam menjalankan kewajiban syariat. Bertanggung jawab terhadap keluarganya dari siksa api neraka.

Yang tak boleh tertinggal mungkin bagaimana proses pernikahan yang sesuai syariat. Pastinya dari proses ta’aruf sampai walimatul ‘usrnya wajib syar’i.

Mulai sekaranglah waktu sedikit demi sedikit memahamkan orang tua dan keluarga. Seperti apa proses ta’aruf dalam Islam. Bagaimana proses pernikahan syar’i sesuai syariat, yang ini nih kudu difahamkan.

Satu hal lagi yang aku inginkan, pernikahan itu tak dibuat ribet. Karena yang ribet itu setelah nikah. Mendamaikan dua orang yang berbeda. Seperti sepasang sendal, berbeda. Namun keduanya saling melengkapi.

Jadi pernikahan syar’i menjadi hal yang wajib untuk mengawali kehidupan sakinah mawaddah warahmah. Ya Allah semoga Engkau mudahkan jalanku.

Dan semoga Engkau pertemukan aku dengannya, sang pemilik hatiku.

_Mukarramah Rasyidah el Fikry_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar